Postingan Terbaru

Di Malam Ini

Gambar
Ilustrasi | Pexels.com/Padli Pradana Izinkanlah kupeluk namamu di antara bulan yang masih menggantung di langit sampai aku merasa penuh warna. Kemudian, izinkanlah kugenggam suaramu dalam alunan bait-bait yang merdu meresap ke dalam kalbu ini. "Semuanya akan seperti bintang yang jatuh ke tanganmu," ucapmu di kala kita duduk di waktu malam. Aku mengerutkan kening ketika kalimat itu terdengar dan tenggorokan ini pun malah seperti ada yang mengganjal. "Kenapa?" tanyamu terasa kebingungan, "ada masalah, kah?" lanjutmu sambil menatapku. Di sini, aku seperti menanamkan luka di kala kau terus-menerus mengeluarkan kata yang sulit dipahami secara seksama. Aku menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan kau malah melemparkan senyum yang menghujam dalam dada. "Kenapa diam aja, sih?"—kau pun memegang tangan  ini—"kalau ada apa-apa, bilang saja!" tegasmu. Kalimat itu seperti hujan di tanah tandus membangkitkan harapan untuk subur kembali. Aku terd...

Pragmatik dan Implikatur Percakapan

 


Apa pernah mendapatkan atau membaca percakapan seperti ini:

1/
a: "Ani, apa sudah makan?" 
b: "Ani sudah kasih makan kucing."

2/
a: "Selamat pagi, Ani. Kita jalan-jalan, yuk!" 
b: "Apa kamu sudah menghadap Ibu?" 
a: "Sudah, Ani."

Kita seduh dulu kopinya terus yuklah mengingat kembali pelajaran yang sudah diajarkan biar tak lupa. Benar, kan?

Ini masalah tentang 'Pragmatik dan Implikatur Percakapan'. Langsung saja, ya! Pragmatik di sini dirumuskan sebagai telaah makna menurut si pembicara atau penulis. Secara lainnya juga, pragmatik berkaitan dengan penafsiran makna ujaran di dalam konteks. Sering juga makna ujaran dalam konteks tidak dapat ditafsirkan hanya berdasarkan makna kata-kata yang diucapkan.

Coba kita lihat dari contoh no 1, di sana terdiri percakapan antara a dan b. Coba kita lihat lagi jawaban si (b) itu tidak menjawab pertanyaan si (a) jika kita hanya melihat kata-kata yang digunakan. Namun, si (a) akan menafsirkan bahwa si (b) sudah makan. Si (a) tahu bahwa sudah kebiasaan, kucing diberi makan sesudah si (b) makan.

Nah, kita coba lihat lagi contoh no 2, di sana juga terdiri percakapan antara (a) dan (b). Percakapan sepasang kekasih antara (a) dan (b) yang mana si (a) mengajak jalan-jalan kepada si (b). Pertanyaan si (b) itu bukanlah karena mau mengajak jalan-jalan harus selalu menghadap dulu kepada ibu. Tuntutan itu adalah untuk meminta izin terlebih dahulu agar tak melanggar aturan. Dalam konteks seperti itu, pertanyaan si (b) "Apa kamu sudah menghadap Ibu?"

Nah, tulisan ini sudah mau sampai akhir. Dalam kedua contoh itu (1 dan 2) tampak bahwa pesan yang disampaikan "sudah makan" pada no (1) dan pertanyaan "Apa kamu sudah menghadap Ibu?" pada no (2) bukan berdasarkan makna kalimat, tetapi melalui penafsiran berdasarkan konteks ujaran. Jadi, prinsip dasar menafsirkan ujaran adalah bahwa semua ujaran yang ditunjukkan kepada lawan bicara relevan. Makna berupa tafsiran percakapan di atas disebut Implikatur Percakapan.

Sumber: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia

....


Komentar

Tulisan Favorit Pembaca

Mengenal Tari Topeng Cirebon, Sejarah, Jenis, dan Filosofi yang Terkandung dari Keindahannya, Silakan Disimak!

5 Cakupan Tindak KDRT dan Akibat yang Bisa Terjadi, Pasutri Wajib Tahu!

Mari Berkenalan dengan Gurita Teleskop, Penghuni Laut Dalam!

Kue Kontol Sapi, Makanan Unik Khas Cilegon

Batu Hitam yang Terluka